Artikel
Banjir di Bali: Peringatan Tanggap Darurat, Warga dan Pemerintah Diminta Waspada
12 September 2025
11 September 2025Ngeri, Rentetan Kasus Mutilasi di Jawa Timur
21 February 2025Ratusan Anak Terlibat Tindak Kriminal sejak Awal Tahun 2025
STATUS tanggap darurat bencana diterapkan sejak banjir menerjang enam kabupaten dan kota di Bali. Status itu menjadi peringatan bagi pemangku kebijakan dan masyarakat untuk siap siaga menghadapi bencana alam. Bukan hanya di Bali, peringatan itu juga berlaku untuk semua pemerintah provinsi di Indonesia.
Hujan deras mengguyur wilayah Bali sejak Selasa 9 September 2025. Banjir pun merendam enam kabupaten dan kota yaitu Denpasar, Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, serta Tabanan. Sembilan orang dilaporkan tewas. Sementara enam warga masih hilang.
“Banjir mengakibatkan banyaknya kerusakan bangunan dan korban jiwa maupun materiil,” ujar Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy dikutip dari Detik dengan artikel berjudul Fakta-fakta Banjir Bali: 9 Orang Tewas, Status Tanggap Darurat Bencana.
Salah satu korban dilaporkan hilang saat ia dan suaminya melintas jembatan di dekat Pasar Pengosari, Badung. Mereka terjebak di dalam mobil saat banjir meluap. Sang suami selamat dari kejadian itu. Sedangkan korban terjebak di dalam mobil. Jasadnya ditemukan terdampak dua kilometer dari titik ia dilaporkan hilang.
Seorang ibu hamil juga menjadi korban tewas di Jembrana. Tak ada luka pada tubuh korban karena ia tenggelam saat banjir menerjang.
Di Jembrana, seorang pria ditemukan tewas mengambang. Warga di sekitar lokasi kejadian menduga korban meninggal karena tersetrum kabel listrik yang putus saat menggeser pagar rumahnya yang terendam banjir.
Waspada Banjir
Peristiwa banjir yang melanda Bali menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan sebelum bencana terjadi. Banjir tidak hanya merusak properti, tapi juga mengancam keselamatan jiwa. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko.
Masyarakat dianjurkan selalu memantau informasi cuaca dan peringatan dari BMKG atau pemerintah daerah. Menyiapkan jalur evakuasi, stok kebutuhan darurat, dan komunikasi darurat dengan keluarga bisa menjadi langkah preventif yang sangat membantu.
Selain itu, pemilik rumah dan pengelola lingkungan disarankan memperhatikan sistem drainase, menjaga kebersihan selokan, dan mengantisipasi potensi penyumbatan air hujan. Koordinasi antarwarga juga penting untuk membantu kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Dengan langkah-langkah preventif yang tepat, masyarakat tidak hanya bisa menurunkan risiko kerugian materiil, tetapi juga menyelamatkan nyawa saat bencana datang. Waspada dan siap siaga adalah kunci menghadapi musim hujan yang ekstrem.
Puncak Kejadian di Sore dan Malam
Data Pusiknas Bareskrim Polri menunjukkan bahwa banjir sepanjang 2025 paling banyak dilaporkan terjadi pada sore hingga malam hari, khususnya di area pemukiman warga. Tren ini menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat saat pulang beraktivitas atau menjelang malam.